Sunday, 8 November 2015

Rinjani Sebuah Rindu yang Tertinggal.

Kita tentunya sepakat dan tak memungkiri lagi bahwa di tanah kelahiran kita menyimpan berjuta keindahan alam yang patut kita syukuri. Beribu pulau terbentang dari ujung barat ke timur negeri ini. gunung-gunug terbentang dengan gagahnya menembus garis khatulistiwa dan disinilah setiap cerita dengan elok dan menyentuh sanubari selalu tercurahkan. 
Syukur sudah sepatutnya kita panjatkan untuk setiap jengkal tanah yang kita pijak. Aku selalu terpukau dengan apa yang ada disekitar tempat dimana aku menghirup udara ini. Beberapa tahun lalu tepatnya perjalanan mengesankan menyusuri lereng-lereng iyang menegangkan namun selalu indah dan terngat. Yup sebagai mahasiswa biologi berkutat dengan alam adalah hal yang sudah bisa tak terpungkiri , salah satunya yaitu bercengkrama dengan salah satu kekayaan alam negeri ini, Yup Gunung Rinjani yang merupakan salah satu gunung tertinggi kedua yang dimiliki oleh negeri ini. Keunikannya membawa hasratku untuk melakukan penelitian dan mengekspolarisi demi mencari sejengkal pengetahuan di jantung gunung tersebut. 
Tepatnya dua tahun lalu setelah pratikum di bawah kaki gunung rinjani hal tersebut menginspirasi dan menghasut naluri seorang mahasiswa biologi untuk mencari hal yang baru di gunung tersebut demi keselamatan lingkungan di sebuah taman nasional gunung Rinjani. Yup aku memutuskan untuk melakukan penelitian yang cukup ekstrim di sekitar puncak gunung rinjani tepatnya di Danau Segara Anak yang merupakan jantung mata air daerah lombok. Penelitian tersebut terkait plankton.
Foto di atas adalah lokasi tempat penelitian tersebut dan orang-orang di dalam foto-foto tersebut merupakan sahabat yang tidak pernah terlupakan. Bagiku melakukan penelitian di tempat tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak rekan ataupun keluarga menanyakan mengapa harus jauh2 kesana akan tetapi aku dan swadi yang juga meneliti tentang serangga di rinjani mempunyai alasan tersendiri. Bagi kami, kami bukanlah mahasiswa sains yang begitu kreatif merancang sebuah penelitian yang mendunia tapi yang kami tahu jika bukan kami yang peduli apakah orang luar harus lebih peduli bagi kami, tentunya kami ingin sebagai putra negeri ini kami ingin menjadi yang pertama selain tujuan utama kami tentunya agar lingkungan dan keseimbangan ekosistem selalu terjaga dengan memperhatikan faktor-faktor biologi yang ada,
Perjalanan penelitian ke rinjani adalah perjalanan yang sulit, trek yang berbahaya namun cukup memanjakan mata dengan pemandangan dan sekelilingnya dan beruntunglah aku mempunyai sahabat-sahabat yang setia dan rela melakukan segalanya untuk keberhasilan penelitian tersebut, Aan, yoga swadi arya, Pa i , Arif dan Marlin adalah orang-orang hebat yang membantuku. Penelitain tentang plankton di rinjani inilah yang selanujutnya modal untuk mengajukan beasiswa LPDP dan alhamdulillah kini aku telah menerima beasiswa tersebut walaupun masih harus mengkuti pengayaan bahasa.
Perjalanan menapaki rinjani tidak hanya sekedar penelitian pada akhir masa kuliah kami bertiga saya aan swadi dan juga marlin diminta untuk menemani mahasiswa dari Australia untuk mendaki dan menikmati sajian pemandangan luar biasa dari gunung rinjani. Maria, James, hardi dan tiga lagi yang aku sendiri lupa namanya karena sulit untuk dihafal menjajaki suguhan kekayaaan alam rinjadi seperti danau segara anak, air terjun, air hangat  dan bukit- bukit indah yang dihiasi dengan edelwis.
Kini hari - hari itu telah berlalu tapi aku selalu berharap aku dapat mencium bau tanah gunung tersebut tentunya bersama rekan hidup yang selalu memberi memori dan meninggalkan jejak kerindiuan di sanubari. Miss u all :)