Friday, 19 August 2016

My Side View of Bogor

It’s going lately to post my writing about city that I have been living for study.  It has been 2 weeks ago since I came firstly in Bogor. Honestly this city was giving me a lot of surprise.
I thought Bogor doesn’t have traffic jam like Jakarta but I was wrong, it was not like in my mind, everyday I see many traffic jam in many areas and specific time. Futhermore the public transportation or we known as “ Angkot” in here so crowd and seem like not manageable. Angkot can stop in anywhere area.
Obviously, the Govt have many home worked to figure out the City’s Problem. As a we know Bogor has biodiversity campus known as Bogor Algicultural University (IPB), The Place where I’m studying. Every year many new visitor will visit this city. Absolutely, the number of people will rise quickly. Surely no one who want to look bogor like Jakarta.
“City of Rain” the other name of Bogor explained that rain in bogor happens frequently. When I was arriving in this city Rains have falled like cat and dog. Yeah it was like welcoming party from this city.  Rain Coat which the important stuff u must buy firstly in here due to Rain comes unpredcictable. The weather in this city is cool and quite humadity. It may because the city has surrounded by there mountains I.E  Mount Salak, Mount Gede, and Mount Pangrango.


To Be continued

Friday, 10 June 2016

Just Reflection kawan :)

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Hello 
Heloo 
Gaes
Lama sudah kiranya tidak mencorat coret lagi blog ini, Entahalah sudah berapa banyak hal yang tidak aku rekam lagi dalam blog ini, ada banyak pelajaran yang ternyata baru aku sadari, perjalanan yang sangat penting bagiku tentang hidup ini, bagaimana memandangnya dan menjalaninya.
Setelah disetujuinya beasiswaku jujur aku jauh lagi dengan yang namanya Tuhan padahal sebelum itu Dia adalah satu-satunya zat tempat aku memelas untuk hidup yang lebih , yah betapa munafiknya diriku, munafiknya hamba manusia. Baru saja di uji oleh kenikmatan yang seujung jari sudah lupa darimana asalnya padahal hal tersebut jika dikaji adalah sebuah tanggung jawab yang harus di emban dan dituntaskan dengan baik. 
Jenjang waktu mulai kuliahku yang agak lama mebuat aku banyak belajar teuantang banyak hal yang telah aku lalui terutama kekuranganku, hal-hal buruk yang masih kusimpan. Selama rentang waktu itu aku menyadari bahwa komunikasi dalam kehidupan adalah segalanya. Komunikasi vertikal dengan Tuhan dan Manusia merupaktan inti dari kehidupan. Kedua hal itu tidak mungkin dapat dibangun dalam waktu semalam butuh waktu panjang, segala unsur dapat mempengaruhinya terutama pendidikan karakter, 
Sayangnya kawan hal tersebutlah yang aku sadari sangat kurang dalam hidupku, karakterku yang acuh, keegoisan dan kesombongan benar-benar menyelimuti hampir seluruh hidupku selama ini. Mungkin telat bagiku untuk menghapusnya namun selama itu adalah untuk sebuah kebaikan tidak ada salahnya. Sudah berapa banyak orang yang mungkin aku kecewakan hanya gara-gara komunikasi yang buruk. 
Aku mencoba memahami bahawa akar dari itu semua bukanlah sebuah pengaruh dari intelegensi akademik tetapi lebih dari itu mentalku lah yang lemah. Bekal ilmu dan penerapan emosional dan spritualku sangat jauh dari kata cukup atau baik untuk membuat sebuah pondasi karakter pribadi yang baik yang tentunya juga mempunyai suatu komunikasi baik. 
Jika kau bisa dengan teliti lagi bahwa kegagalan setiap manusia bukan karena mereka tidaklah pintar atau cerdas dalam bidang akademik tetapi karena tingkat kontrol diri terhadap emosi dan spiritualnya yang sangat buruk yang menjadi faktor utama. 
Kedua hal tersebut aku sadari terbentuk dari kecil, namun bukan berarti tidak bisa dipelajari ketika telah dewasa. Bagiku diantara beberapa orang di dunia ini ada yang mendapatkanya dari keluarga artinya sudah tertanam melalui didikan dari kedua orang tua dan lingkungannya sejak kecil namun ada juga yang tidak mendapatkannya. Mungkin aku salah satu orang yang tidak mendapatkan atau aku yang tidak menyadari dan menangkap hal tersebut. Yang jelas aku sangat menstentyukuri apa yang sudah kedua orang tuaku beri sejak kecil, kasih sayang mereka bahkan hingga aku dewasa. Kenyamanan yang mereka berikan karena kasih sayang mereka yang tulus mungkin membuat aku nyaman sejak kecil sehingga pemikiran yang tertanam diotakku sejak kecil aku tidak perlu berpikir keras tentang dunia luar lagi, well yah itu salahku. 
Terus hubungannya apa sama komunikasiku yang buruk, emosional dan semacamnyya..?
yup kenyamanan yang diberikan oleh kedua orang tuaku membuat aku memlih waktuku lebih banyak dirumah karena bagiku rumahku istanahku dari dulu, well ini salahku lagi. 
Keadaan itu membuat aku jarang berinteraksi dengan dunia luar dengan dunia sosial, sifat minder dan malu secara langsung terbentuk, sehingga menjadikan aku tidak mandiri. 
Nah ketika aku kuliah dan membuat aku jauh dari rumah baru aku tahu deh dampaknya yang bener-bener terasa, eits namun pada saat itu aku belum menyadarinya secara penuh walaupun pada saat itu aku lebih terbuka dengan ikut berbagai kegiatan organisasi didalam maupun di luar kampus, namun itu tidak cukup kawan karena pada saat itu setelah aku sadari sekarang emotional dan spritualku jauh dari kata baik, That's why may be some problems i could'nt handle it...Bodohnya saat itu juga aku belum mau belajar dan menganggap diri paling the bestlah dalam setiap hal, yaelah ya kan sombong dengan muka yang sedikit menjengkelkan orang lain, Kalau ada temanku atau para guru hingga Dosenku yang membaca refleksi ini aku mohon maaf sebesar-besarnya. 
Tapi aku sangat bersyukur sekarang karena Tuhan selalu punya cara agar umatnya dapat memperbaiki dirinya tinggal bagaimana kitanya mau atau tidak menerima hidayah yang diberi. 
jadi ingat nih gaes ada firman Allah dalam al-quran yang seperti ini

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka ” (QS.13:11)

PR bagi pribadiku memanng banyak tapi aku yakin dimana ada kemauan untuk berubah pasti bisa apalagi untuk sebuah kebaikan, buang jauh-jauh kata sulit dan ganti dengan mudah karena satu hal yang baru aku pelajari bahwa apa yang kita ingin dapatkan tergantung dari prasangka kita gaes, so just positive thinking.
Oh ya aku menulis ini tidak bermaksud apa-apa hanya sekedar membagikan pikiran dan sapatahu ada diantara kalian yang mempunyai sifat mirip-mirip. Tapi aku harap seh g da yah, :)hehehe..
Yuk berbuat lebih baik lagi. 


"Change has a considerable psychological impact on the human mind. To the fearful it is threatening because it means that things may get worse. To the hopeful it is encouraging because things may get better. To the confident it is inspiring because the challenge exists to make things better".
 King Whitney Jr.

Friday, 22 January 2016

Cinta Boleh Buta Tapi......... ??

Kepulanganku dari Mataram ke kampung halaman tercinta setelah beberapa hari liburan di Mataram cukup menyisipkan beberapa kisah yang menggodaku untuk membagikannya terutama saat perjalanan menggunakan kapal fery.  Seperti biasanya jika menaiki kapal fery aku selalu berangkat pagi, hal ini untuk menghindari perjalanan darat sore hari ketika tiba di Sumbawa yang sering hujan.
Singkat cerita baru menaiki kapal aku dan adikku duduk di ruangan VIP namun karena AC nya mati akhirnya kami pindah ke kursi luar untuk mendapatkan desiran angin. Maklumlah cukup gerah berada di dalam ruangan sebelumnya.
Ketika ku duduk kuperhatikan disampingku terdapat seorang pria dengan seorang bule. Bulenya menurutku sangat cantik dengan hidung yang mancung. Awalnya aku menduga bahwa pria ini adalah guide yang siap mengantarkan si bule kemanapun si bule ingin pergi.Tapi ada banyak keraguan saat itu soalnya sekilas ku lihat mereka berdua cukup mesra.  Rasa penasaran yang sangat besar menggodaku untuk menyapa si pria , mencoba untuk berkenalan. Akhirnya dengan sedikit mengubur rasa malu, aku akhirnya dapat bercakap dengan si pria, ternyata namanya bang Tam.
Setelah basa basi ternyata bang tam emang guide yang kerja di gili terawangan, tapi bentar dulu ternyata bulenya ini bukan tamu bang Tam tapi istrinya. Woow aku sempat terkejut, nama bule ini Meri asalnya dari german , jauh juga yah dari Indonesia. Kata bang Tam dia baru menikah dan mau liburan dulu ke Sumbawa sebelum istrinya balik ke German mengurus beberapa berkas. Bang tam cerita kalau dia dan istri ketemu di gili terawangan awalnya saat itu istrinya liburan, dan memang pada awalnya sangat susah menyatukan. Yang pertama masalah budaya yang jauh beda, belum lagi agama, pokoknya sangat banyak perbedaan yang harus mereka satukan agar dapat melangsungkan pernikahan, alhasil dengan kepercayaan dan kerja keras mereka dapat menikah. Saya cukup kagum dengan mereka karena dapat saling memahami walaupun beda agama, apa itu yah yang disebut love is blind. Tapi pesan bang Tam walaupun cinta itu buta n menyatukan perbedaan tapi jangan sampai sebagai bangsa Indonesia kita kehilangan jati diri kita, budaya ketimuran kita harus tetap dipertahankan karena hanya dengan itu kita disegani oleh orang luar. Cinta mungkin memang buta tapi ia tetap menggunakan rasionalitas dan logika.
Hari itu cukup memberikan beberapa pelajaran kepada saya dan akhirnya pertemuan kita diakhiri dengan meminta kontak WA siapa tahu kita dapat bertemu lagi.


Thursday, 7 January 2016

Don't Lie With Your Ability

Hai sobat, akhir tahun kemarin saya mendapat satu pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya, tepatnya bulan Desember 2015 untuk tanggalnya saya tidak ingat lagi. Jadi pada saat itu saya mengikuti suatu tes untuk dapat bergabung dengan sebuah lembaga kursus yang memberikan kursus bahasa inggris gratis. ELTA ialah nama dari lembaga tersebut. Lebih tepatnya ELTA bukanlah sebuah lembaga akan tetapi sebuah program dari Australian Award Scholarship yang diperuntukkan untuk calon pelamar beasiswa AAS yang skor  IELTSnya masih kurang dari 5.0
Bagi saya tentunya program tersebut adalah sebuah kesempatan emas mengingat saat itu kemampuan bahasa inggris saya masih jauh dari cukup walaupun sekarang juga belum ada perubahan loh. Sebenarnya tujuan saya mengikuti program ELTA bukan untuk mempersiapkan diri saya untuk melamar beasiswa AAS karena pada hakikatnya saya telah ditetapkan lulus beasiswa Afirmasi LPDP akan tetapi saya tidak mendapatkan pengayaan bahasa, Alasan dari pihak LPDP karena saya telah diterima di salah satu universitas negeri. Sehingga murni untuk meningkatkan kemampuan bahasa  inggris saya.
Sebelum mengikuti tes tentunya saya juga mempersiapkan diri untuk tes tersebut. Adapun tesnya adalah tes tulis. Uniknya pada tes ini bukan nilai tertinggi yang akan lolos akan tetapi, yang lolos adalah mereka yang mempunyai nilai ataupun kemapuang bahasa inggris rentangan diatas 4.5 dan dibawah 5.0. Bagi saya kriteria tersebut cukup membingingkan, jadi saya bertanya kepada sahabat saya yang juga pernah tidak lolos dan juga lolos tes tersebut. Dia menyarankan untuk menyalahkan beberapa soal jangan sampai benar semua sehingga nanti nilanya bisa berada dikisaran tersebut,  
Hari tes pun tiba, dengan percaya dirinya saya pun membuka lembaran soal tersebut, wah benar ternyata soalnya sangat mudah. Dengan congkaknya saya menjawab soal tersebut, tidak lupa juga saya menyalahkan hampir 30 persen jawabannya.Tidak seperti tes biasa yang lama memberikan pengumuman setelah tes sehingga pesertanya merasa di PHPin ELTA langsung memberikan pengumuman tes besok paginya. Hari pengumuman pun tiba walaupun hanya sehari namun bagi saya cukup menegangkan namun saya sangat yakin bahwa saya akan lolos. Sekitar Pukul 8.00 tepatnya di Balai Kepegawaian Daerah dengan Percaya dirinya saya menunggu datangya para penyeleksi yang terdiri dari seorang bule dan dua laginya adalah WNI, 10 menit berlalu pengumuman pun ditempel di tembok  dekat pintu kantor BKD, Saya pun langsung berlari melihat pengumuman tersebut,
Ternyata,,,sungguh pupus rasanya kepercayaan diri dan harapan saya seketika setelah melihat saya ternyata tidak lolos. Ditambah lagi kekecewaan saya bukan hanya karena tidak lolos saja akan tetapi tidak lolos saya karena underqualified yang artinya kemampuan saya dibawah rata-rata, karena ada juga yang tidak lolos karena overqualified , hal ini berarti mereka tidak lolos karena sudah lewat kriteria, kemampuannya bahasa inggrisnya diatas 5.0.
Hal tersebut tentu memukul semangat saya untuk belajar, akan tetapi saya menyadari itu adalah sebuah kesalahan saya, bahwa sebenarnya kemampuan saya mungkin hanya di rentangan tersebut jadi tidak perlu disalah-salahkan lagi artinya saya menipu orang lain dan diri sendiri. Mungkin itu adalah letak ketidaksungguhan dan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan bahasa inggris yang saya miliki atau mungkin saya telah menipu kemampuan saya sendiri dengan percaya diri seakan saya sudah hebat sehingga pantas untuk menyalah-nyalahkan sebagian besar jawaban padahal belum tentu jawaban yang sudah saya isi itu benar. 
Terlepas dari itu semua itu menjadi pelajaran bagi saya bahwa kejujuran dan kesungguhan dalam mengerjakan sesuatu itu penting. Jujur akan apa yang dimiliki termasuk kemampuan diri sendiri dalam hal apapun adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Jujur berarti tidak untuk merendahkan kemampuan yang dimiliki dan jujur untuk tidak meninggikan kemampuan diri sendiri dari kemampuan sebnarnya. So be the best with yourself brother. 

Sunday, 8 November 2015

Rinjani Sebuah Rindu yang Tertinggal.

Kita tentunya sepakat dan tak memungkiri lagi bahwa di tanah kelahiran kita menyimpan berjuta keindahan alam yang patut kita syukuri. Beribu pulau terbentang dari ujung barat ke timur negeri ini. gunung-gunug terbentang dengan gagahnya menembus garis khatulistiwa dan disinilah setiap cerita dengan elok dan menyentuh sanubari selalu tercurahkan. 
Syukur sudah sepatutnya kita panjatkan untuk setiap jengkal tanah yang kita pijak. Aku selalu terpukau dengan apa yang ada disekitar tempat dimana aku menghirup udara ini. Beberapa tahun lalu tepatnya perjalanan mengesankan menyusuri lereng-lereng iyang menegangkan namun selalu indah dan terngat. Yup sebagai mahasiswa biologi berkutat dengan alam adalah hal yang sudah bisa tak terpungkiri , salah satunya yaitu bercengkrama dengan salah satu kekayaan alam negeri ini, Yup Gunung Rinjani yang merupakan salah satu gunung tertinggi kedua yang dimiliki oleh negeri ini. Keunikannya membawa hasratku untuk melakukan penelitian dan mengekspolarisi demi mencari sejengkal pengetahuan di jantung gunung tersebut. 
Tepatnya dua tahun lalu setelah pratikum di bawah kaki gunung rinjani hal tersebut menginspirasi dan menghasut naluri seorang mahasiswa biologi untuk mencari hal yang baru di gunung tersebut demi keselamatan lingkungan di sebuah taman nasional gunung Rinjani. Yup aku memutuskan untuk melakukan penelitian yang cukup ekstrim di sekitar puncak gunung rinjani tepatnya di Danau Segara Anak yang merupakan jantung mata air daerah lombok. Penelitian tersebut terkait plankton.
Foto di atas adalah lokasi tempat penelitian tersebut dan orang-orang di dalam foto-foto tersebut merupakan sahabat yang tidak pernah terlupakan. Bagiku melakukan penelitian di tempat tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak rekan ataupun keluarga menanyakan mengapa harus jauh2 kesana akan tetapi aku dan swadi yang juga meneliti tentang serangga di rinjani mempunyai alasan tersendiri. Bagi kami, kami bukanlah mahasiswa sains yang begitu kreatif merancang sebuah penelitian yang mendunia tapi yang kami tahu jika bukan kami yang peduli apakah orang luar harus lebih peduli bagi kami, tentunya kami ingin sebagai putra negeri ini kami ingin menjadi yang pertama selain tujuan utama kami tentunya agar lingkungan dan keseimbangan ekosistem selalu terjaga dengan memperhatikan faktor-faktor biologi yang ada,
Perjalanan penelitian ke rinjani adalah perjalanan yang sulit, trek yang berbahaya namun cukup memanjakan mata dengan pemandangan dan sekelilingnya dan beruntunglah aku mempunyai sahabat-sahabat yang setia dan rela melakukan segalanya untuk keberhasilan penelitian tersebut, Aan, yoga swadi arya, Pa i , Arif dan Marlin adalah orang-orang hebat yang membantuku. Penelitain tentang plankton di rinjani inilah yang selanujutnya modal untuk mengajukan beasiswa LPDP dan alhamdulillah kini aku telah menerima beasiswa tersebut walaupun masih harus mengkuti pengayaan bahasa.
Perjalanan menapaki rinjani tidak hanya sekedar penelitian pada akhir masa kuliah kami bertiga saya aan swadi dan juga marlin diminta untuk menemani mahasiswa dari Australia untuk mendaki dan menikmati sajian pemandangan luar biasa dari gunung rinjani. Maria, James, hardi dan tiga lagi yang aku sendiri lupa namanya karena sulit untuk dihafal menjajaki suguhan kekayaaan alam rinjadi seperti danau segara anak, air terjun, air hangat  dan bukit- bukit indah yang dihiasi dengan edelwis.
Kini hari - hari itu telah berlalu tapi aku selalu berharap aku dapat mencium bau tanah gunung tersebut tentunya bersama rekan hidup yang selalu memberi memori dan meninggalkan jejak kerindiuan di sanubari. Miss u all :)